Wahai Tuhan kami, berilah kami beroleh dari isteri-isteri dan zuriat keturunan kami : Perkara-perkara yang menyukakan hati melihatnya dan jadikanlah kami imam ikutan bagi orang-orang yang (mahu) bertakwa. (Al-Furqan:74) akhifaizul Blogging Portal


Friday, January 09, 2004

Riwayat Seorang Nakhoda Kapal

Sayid Rasyid Ridha menceriterakan di dalam Tafsir al-Manarnya, (Juzu' 11, hal 341) tentang seorang Nakhoda (Kapten) kapal besar yang selalu belayar pergi dan pulang di antara London dan India. Di waktu-waktu senggangnya di dalam kapal selalu suka membaca; mula-mulanya sebagai suka-suka mengisi waktu, kemudiannya sebagai studi menambah pengetahuan. Salah satu kitab yang menarik perhatiannya ialah al-Quran yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggeris. Dibacanya terjemahan itu, mulanya secara suka-suka, lama-lama menjadi perhatian, terutama bila bertemu ayat-ayat yang menceriterakan darihal lautan. Di antaranya ialah ayat 22 dan 23 dari Surat Yunus Bertemu di dalam Surat ar-Rahman ayat yang menyatakan perbedaan di antara dua lautan, air tawar dan air masin yang tidak pernah berkacau di tiap-tiap kuala dan muara sungai besar. Bertemu lagi ayat lain di dalam Surat ar-Rahman juga yang dengan pendek menerangkan betapa indahnya kapal-kapal mengharung lautan. Bertemu pula di Surat lain tentang angin, tentang badai, tentang gulungan ombak, tentang gelap tengah malarn sehingga tangan sendiripun tidak kelihatan, gelap-gelita sekeliling, di bawah badai di atas gumpalan awan hitam. (Surat an-Nur). Dan di ayat bertemu lagi bahwa kadang-kadang lautan itu Riwayat Seorang Nakhoda Kapal

Sayid Rasyid Ridha menceriterakan di dalam Tafsir al-Manarnya, (Juzu' 11, hal 341) tentang seorang Nakhoda (Kapten) kapal besar yang selalu belayar pergi dan pulang di antara London dan India. Di waktu-waktu senggangnya di dalam kapal selalu suka membaca; mula-mulanya sebagai suka-suka mengisi waktu, kemudiannya sebagai studi menambah pengetahuan. Salah satu kitab yang menarik perhatiannya ialah al-Quran yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggeris. Dibacanya terjemahan itu, mulanya secara suka-suka, lama-lama menjadi perhatian, terutama bila bertemu ayat-ayat yang menceriterakan darihal lautan. Di antaranya ialah ayat 22 dan 23 dari Surat Yunus Bertemu di dalam Surat ar-Rahman ayat yang menyatakan perbedaan di antara dua lautan, air tawar dan air masin yang tidak pernah berkacau di tiap-tiap kuala dan muara sungai besar. Bertemu lagi ayat lain di dalam Surat ar-Rahman juga yang dengan pendek menerangkan betapa indahnya kapal-kapal mengharung lautan. Bertemu pula di Surat lain tentang angin, tentang badai, tentang gulungan ombak, tentang gelap tengah malarn sehingga tangan sendiripun tidak kelihatan, gelap-gelita sekeliling, di bawah badai di atas gumpalan awan hitam. (Surat an-Nur). Dan di ayat bertemu lagi bahwa kadang-kadang lautan itu menghasilkan luk-luk (mutiara) dan marjan. Bertemu lagi ayat bahwa kadang-kadang kapal itu belayar beriring-iring laksana dayang-dayang inang pengasuh membawa tanda, yaitu torehan bekas jejak kapal di lautan bila angin berhembus tenang, dan kadang-kadang berhenti angin turun (di zaman kapal layar), maka terkatung-katunglah kapal itu, menunggu angin.enghasilkan luk-luk (mutiara) dan marjan. Bertemu lagi ayat bahwa kadang-kadang kapal itu belayar beriring-iring laksana dayang-dayang inang pengasuh membawa tanda, yaitu torehan bekas jejak kapal di lautan bila angin berhembus tenang, dan kadang-kadang berhenti angin turun (di zaman kapal layar), maka terkatung-katunglah kapal itu, menunggu angin.

Dalam suatu trip pelayarannya dari London ke India dia sengaja pergi menanyakannya kepada orang-orang Islam, apakah Nabi Muhammad s.a.w. itu pemah belayar. Mereka jawab bahwa Kapten itu bisa mempelajari sendiri riwayat hidup Muhammad s.a.w., tidaklah pernah beliau belayar menempuh lautan. Sejak itu timbullah dengan sendirinya di dalam dadanya kepercayaan bahwasanya al-Quran ini benar-benarlah Wahyu dari Allah kepada Muhammad s.a.w. Dan lebih dari itu diapun mendapat kesan pula, sehingga menjadi kepercayaan, bahwasanya ayat-ayat al-Quran itu penuh dengan isi ajaran Tauhid, Tasyri' dan Tahdzib (pendidikan budi) yang mendalam, yang sangat sempuma dan lebih lekas masuk ke dalam akal murni insan, lebih daripada apa yang tersebut di dalam Taurat ataupun Injil. Sejak timbul keyakinan yang demikian, masuk Islamlah Kapten itu dengan sendirinya. Dibacanya al-Quran lalu diamalkannya isinya, dan diapun beribadatlah mengerjakan sembahyang di atas kapal dengan khusyu'nya menurut tuntunan yang didapatnya dari terjemahan al-Quran itu.

Kemudian datanglah masanya dia meninggalkan pekerjaan di lautan, dan dipilihnyalah Mesir menjadi tempat kediamannya yang tetap, lalu dipelajarinya bahasa Arab dan bergaul dengan,ahli-ahli agama Islam. Kata Sayid Rasyid Ridha: "Orang itu ialah Mr. Abdullah Brown."

Demikian tulus-ikhlasnya keIslaman Mr. Abdullah Brown itu, sehingga Syaikh Muhammad Abduh seketika menguraikan tentang perlunya khusyu' dalam sembahyang pemah mengambil perumparnaan dengan dia. Yaitu seketika dia mulai memeluk Islam, beberapa lamanya dia sembahyang lima waktu di dalam kapal, menurut faham yang didapatnya dari terjemahan alQuran ke dalam bahasa Inggeris itu, dikerjakannya dengan khusyu' dan tekun, lengkap rukun dan syaratnya. Kata Syaikh Muhammad Abduh: "Sembahyangnya dalam keadaan demikian lebih dekatlah kepada keridhaan Allah dan lebih dapat diterima Tuhan, daripada sembahyang setengah orang ruku', sujud, tunggang-tunggik, sembahyang routine karena telah begitu dipusakai dari nenek-moyang, padahal ketika mengerjakan itu hati mereka tidak terhadap samasekali kepada Tuhan dan tidak menyadari Kebesaran dan Keesaan Tuhan."

Mr. Abdullah Brown itu atau Syaikh Abdullah Brown dikenal dalam masyarakat Mesir di awal abad 20, sebagai penganut Islam yang shalih dan meninggal clunia di Mesir juga.

Pihak-pihak yang bermaksud hendak menggoyahkan Iman orang Islam kerapkali menonjolkan bahwasanya Muhammad itu menjadi Rasul hanya untuk orang Arab, dan syurga-syurga dengan air sungai mengalir dan kebun kebun itu hanya sesuai untuk Masyarakat Arab. Mereka tidak sadar atau tidak mau insaf bahwasanya soal lautan dan pelayaran dengan ayatnya yang begitu banyak di dalam al-Quran adalah soal yang umum untuk seluruh manusia di dalam dunia ini, dari dahulu sampai sekarang dan sampai zaman depan, sedang Nabi Muhammad s.a.w. sendiri tidak pemah pergi belayar.

Sumber: Prof. Dr. Hamka,Tafseer Al-Azhar, Jilid 5